MKKB
Monday, February 21, 2011 @ 3:35 am
Jujur, sejujur-jujurnya gue itu MKKB. Bukan berarti gue suka nangis kenceng di mall, atau ngerengek minta lollipop raksasa atau mainan, tapi MKKB yang lebih mengarah ke iri sama anak kecil. Gue iri banget sama anak kecil, karena gue sadar, semakin banyak kekhawatiran yang gue alami selama gue beranjak dewasa. Misalnya, khawatir kalo gue diketawain orang satu aula kalo gue ngelawak terlalu kenceng. Atau, takut salah pake kostum di hadapan orang-orang yang gue kenal. Coba seandainya gue masih seperti anak kecil, mau gue pake baju renang dan sepatu kodok di tengah pesta formal juga mungkin gue akan jalan dengan bangganya.
Yang lebih gue iri lagi, anak kecil itu bisa jujur. Sadar atau enggak, semakin dewasa umur kita, semakin sering kita bohong. Salah sedikit, boong. Bahkan sampai minjem duit orang kita juga bisa boong (baca: nyipet). Nggak jujur tentang kelakuan mereka juga, tapi juga hati. Kalo mereka marah, mereka bilang. Kalo mereka sedih, mereka akan nangis. Kalopun seneng, mereka pasti bakal ngelonjak kegirangan seperti anak ayam ketemu sama..... cacing gemuk (yeheee, pasti mau jawab ibunya kan? salaaaah).
Ngomong-ngomong soal perasaan, hal ini yang paling gue iri-in dari anak kecil.
Anak kecil nggak pernah mementingkan ego. Dan mereka nggak kenal kata gengsi!
Gue jadi inget kejadian yang terjadi dulu waktu gue masih kecil. Dulu gue termasuk anak paling populer di lingkungan rumah gue, karena gue anak esde paling tua di gang rumah gue. Berasa leader, nih. Mereka semua nggak pernah mau main kalo nggak ada gue, bahkan gue lagi mandi pun sampe ditungguin (bukan di dalem kamar mandi tentunya). Suatu hari, ada salah seorang temen yang nangisin anak lain. Gue marah, akibat faktor jiwa sosial gue yang besar gue getol pisan marahin anak-anak yang demen nangsiin anak orang. Eh ternyata, anak-anak lain ikutan marahin dia. Bully sekali, sih, tapi berhubung gue nggak tau apa itu bully waktu esde jadi dimaapin aja yak. Anak itu berkacak pinggang dengan sombongnya, dan memutuskan untuk musuhin kita semua. Akhirnya karena kesel, kita juga musuhin dan nggak mau ngajak dia main. But then, you know what happened next? Besoknya, kita semua udah baikan lagi, main petak umpet dan benteng-bentengan bareng lagi. And that's all because kids don't have ego.
See? Anak kecil memang gampang berantem. Tapi sekalinya mereka berantem, mereka akan baikan, bahkan nggak sampai satu hari. Cuma satu jam pun bagi mereka rasanya udah kayak nggak ada apa-apa. Dan itu semua karena mereka sama sekali nggak kenal ego maupun gengsi, nggak seperti kita.
Misalnya aja, hanya masalah sepele kita berantem, tapi berantemnya bisa sampe berhari-hari. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bahkan setahun pun jadi. Hanya karena masalah yang seharusnya bisa kita pecahkan dengan kepala dingin, kita menjadikan semuanya 'panas' dan bahkan bikin permusuhan yang nggak ada ujungnya. Bahkan diantara kita tidak ada yang mau saling minta maaf hanya karena ngerasa bener, atau gengsi.
Gue sering banget berantem sama temen deket gue waktu SMP dulu. Seringkali gue merasa awkward. Gimana enggak? Kita perang dingin di Twitter dan sindir-sindiran, di sekolah main kacang-kacangan dan saling melempar sindiran, dan segudang hal nyebelin lainnya yang bikin gue nggak nyaman. Meskipun ujung-ujungnya baikan, tapi hal itu berlangsung cukup lama dan akhirnya membatasi gue untuk deket sama mereka, dan semuanya gara-gara gengsi.
Dan gengsi cukup membawa bencana kalau menurut gue. Seandainya, kita lagi berantem dan sebagai manusia yang punya ego, kita gengsi dan nggak mau minta maaf. Sekecil apapun pertengakaran yang kita udah lewatin, dan belum selesai juga, pasti rasanya tetep ngeganjel di hati. We used to talk to someone, but now we choose to never talk to him/her again. That is totally awkward. Nggak sampe disitu aja. Seandainya kita satu sekolah atau satu tempat les sama orang itu, kita cenderung milih-milih tempat dan temen ngobrol. Mau ke kantin, ada musuh, nggak jadi ke kantin. Mau ngobrol sama temen, temen lagi ngobrol sama musuh, akhirnya milih untuk pergi. Nggak enak kan?
Kadang gue berpikir untuk punya sebuah pemikiran yang lebih clear dari sekarang. Gue pengen gue bisa hidup bebas seperti para anak kecil yang jadi inspirasi gue dalam menulis blog ini. Gue pengen hidup bebas untuk berkspresi, tanpa harus punya gengsi atau rasa malu. Gue pengen terhindar dari masalah-masalah gue, tanpa gengsi tentunya. Anggep aja urat malu lo putus men, lupakan sejenak realita, dan jangan ikutin ayam yang nelen karet. Be waras, and stay happy!
P.S: Sekarang gue lagi berantem sama salah satu temen gue hanya karena suatu masalah yang sepele. Doain aja kita dapet yang terbaik, readers. Thank you :D
At last, you're not the least person to know. February 4th, 2011.
Labels: curhat
0 comments: leave a comment
