Arsya. 16 and growing. A hardcore VIPBlackjack, and a loyal YGStan.
Adore floral patterns, a lot of outers, and warm feeling of people's kindness.
I'm not so fashionable but it's kinda fanfiction-able. Lol.
See these dorky chinese guys. No, they AREN'T dorky chinese guys.
They are adorable dorky swaggers from korea called BIGBANG.

This is my life's storyline. Enjoy.

"Never judge me 'cause you never knew what's inside."

I (Don't) Love You
Thursday, February 24, 2011 @ 8:11 am

I Don’t Love You

Alunan piano yang lembut mengalun di seluruh penjuru lorong. Sebuah ruangan, dengan satu-satunya ruangan yang memilki cahaya di seluruh penjuru gedung pun menjadi asal dari suara piano itu. Jemari seorang pemuda tengah bermain diantara tuts-tuts hitam dan putih dengan lincahnya, seolah tengah terbakar dalam api. Matanya menajam, seiring dengan alunan nada yang semakin meninggi. Gerakan tangannya pun semakin cepat, kian cepat bagai bukan memainkan peran sebagai dirinya sendiri.

‘Aaaarrgh!’

Geramnya saat alunan itu berakhir. Dentuman piano yang tertindih pun mulai terdengar jelas dari ruangan itu. Sang pemain meneriakan sebuah teriakan yang mungkin tak sebagus permainannya. Namun bagaimanapun, teriakan frustasi itu menjadi akhir dari permainannya tadi.

Nafasnya mulai terengah-engah. Dadanya serasa dihimpit oleh dua dinding tebal yang memisahkan ia dengan kuatnya dari nafas yang ia coba untuk raih. Perlahan-lahan, sebutir demi sebutir, airmata jatuh menetes di atas tuts-tuts piano yang kini menjadi tempatnya untuk bersandar. Tak lagi ia kuat untuk menahan semua masalah yang menghiasi hari-harinya belakangan.

Sesaat matanya tertuju pada sebuah bingkai foto di atas piano itu. Sebuah bingkai foto, dengan wajah seorang gadis berparas ayu terpatri di dalamnya. Kembali ia tertunduk, setelah rasa sesak di dalam dadanya yang bergejolak semakin kuat. Bulir-bulir airmata pun jatuh dengan deras dari pelupuk matanya, seolah tak lagi terbendung. Timbul sebuah harapan dari dalam hatinya untuk tak lagi merasakan sakit sedalam ini.

Tak sampai hati membiarkan dirinya jatuh terpuruk, ia pun bangkit dan melangkah ke arah sebuah jendela yang terbuka lebar. Angin malam yang menusuk tulang perlahan masuk dan menerpa tubuh tegapnya itu. Dipandanginya suasana kota malam hari yang bertaburan cahaya lampu seraya tersenyum sinis. Terlintas sebuah rencana di otaknya yang akan mengakhiri seluruh penderitaannya saat itu. Senyumnya mengembang, seiring dengan airmatanya yang kembali menetes dan pandangannya yang menerawang jauh ke atas langit gelap yang berhiaskan bintang.

Diambilnya sebuah kotak yang tak berada jauh dari jangkauannya. Dibukanya perlahan kotak itu dan diambilnya sebuah benda hitam berpelatuk yang terlihat dingin dan kejam. Diambilnya sederet peluru, dengan mantap dimasukkannya kedalam benda yang dipegangnya saat itu.

‘Krek.’

Ia tersenyum. Sebentar lagi penderitaanku akan berakhir, pikirnya. Diarahkannya benda berpelatuk itu ke arah kepalanya, seolah ingin membiarkan besi panas itu menembus otaknya. Ia tahu, ini semua adalah tindakan bodoh. Namun tak lagi ia peduli akan hal itu.

Ditariknya pelatuk itu perlahan. ‘Klek’

“Seungri-ya!”

Sebuah teriakan histeris menghentikan jemarinya untuk menarik pelatuk yang lain. Berdiri di hadapannya seorang gadis berparas ayu, yang wajahnya terpatri di dalam bingkai foto itu. Pemuda itu kini hanya membisu. Pistol yang digenggamnya itu kini tergeletak begitu saja di lantai yang dingin. Matanya terpaku pada mata bening yang kini menatapnya dengan tatapan terluka.

“Waeyo, Seungri-ya? Mengapa… mengapa kau harus melakukan ini?”

Tangan dinginnya mencengkeram kedua tangan Seungri erat. Pemuda itu hanya terdiam. Tak bisa dipercayainya bahwa orang yang ia cintai kini tengah berada di hadapannya, setelah sebelumnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya demi gadis itu. Bulir-bulir airmata perlahan meleleh di pipinya yang lembut, membuat Seungri kian merasa sesak.

Hatinya bergejolak hebat. Ingin sekali dielusnya lembut pipi gadis itu, mengakhiri semua kesedihan yang kini ada dalam hidupnya dan mengukir sebuah senyum di wajah ayunya. Namun kenyataan telah membantingnya ke tanah yang paling keras. Gadis di hadapannya itu kini telah menjadi milik orang lain.

Dengan kasar dilepasnya genggaman gadis itu. Kembali hatinya menjadi dingin setelah sesaat ia merasakan kebahagiaan yang amat sangat akan kehadiran gadis yang kini ada dihadapannya. Keterkejutan diwajahnya perlahan memudar, tergantikan oleh kebencian yang teramat dalam terhadap kenyataan yang harus ia hadapi sekarang.

“Ini bukan lagi urusanmu, Dongra. Kau tak perlu lagi datang untuk mencariku.”

“Sebegitu besarkah rasa bencimu kepadaku, Seungri-ya? Sebegitu cepatkah kau lupa akan segala kenangan yang sudah kita ukir?”

Seungri menggigit bibirnya keras-keras. Ingatannya seolah tergali kembali setelah ia coba untuk menguburnya dalam-dalam. Saat-saat kebersamaannya dengan gadis itu terputar kembali dibenaknya cepat, seolah berpacu dengan waktu. Digelengkannya kepalanya keras-keras, diremasnya rambutnya yang hitam legam dengan frustasi. Tak lagi ia menginginkan untuk menyimpan semua itu di dalam otaknya.

“Untuk apa lagi? Untuk apa lagi aku mengingat semuanya? Itu semua hanya akan membuatku semakin hancur, Dongra-ah… Kau kini sudah bersama Jiyong-hyung. Dan ia lebih pantas mendapatkanmu…”

“Pantas bagaimana?! Sebegitu cepatkah kau menyerah?!”

“Cukup, Dongra-ah! Cukup!! Turutilah apa kata kedua orangtuamu! Jiyong-hyung lebih kaya, dan lebih mapan daripada aku! Ia jelas lebih mampu menjagamu dan menjamin masa depanmu! Tak banyak yang bisa dilakukan seorang pemain piano amatir sepertiku! Mungkin membahagiakanmu saja aku tak bisa!”

Pipinya hangat disapu air mata. Seungri tak dapat lagi menahan semua beban di dalam dirinya. Sudah cukup pahit baginya merasakan setahun hidup tanpa Dongra, gadis yang teramat sangat ia cintai. Tak ada lagi hidup bagi dirinya untuk dapat ia nikmati.

Disadarinya gadis itu terdiam. Hanya suara tangisnya yang terdengar ditengah kesunyian malam. Sebuah rasa bersalah tumbuh cepat tepat di lubuk hatinya, setelah disadarinya ia telah membuat gadis itu menangis. Disambarnya tembok yang ada di dekatnya garang dengan tinju bertubi-tubi. Ia menggeram pelan, dengan penuh rasa penyesalan. Sesaat ia menghela napas panjang ditengah napasnya yang pendek terengah-engah.

“Persetan dengan semua itu! Aku tak peduli bagaimana masa depanku nantinya. Aku akan selalu bahagia jika kau ada bersamaku! Tidakkah kau mengerti itu?!”

Seungri terpaku, kembali pikirannya menerawang ke dalam memori-memori terdalamnya. Hasratnya tak dapat lagi terbendung untuk segera memeluk dan merangkul gadis itu erat-erat, dan berjanji padanya bahwa tak akan ia biarkan gadis itu lepas dari genggamannya. Namun sekali lagi ingatan pahit itu menahannya bagai dengan hanya satu komando.

“Hidupku tak pernah lagi bahagia sejak hari itu, Seungri-ya… Sejak kau pergi meninggalkanku di dermaga dan menyuruhku untuk menikah dengan lelaki itu.. Umma dan appa selalu memaksaku untuk tersenyum, namun aku tak bisa… Berulang kali aku masuk rumah sakit akibat kondisiku yang terus menerus menurun. Makan saja aku tak bisa, Seungri-ya…. Kau tak tahu itu.”

Perlahan Dongra yang menjauh dari Seungri kini mulai mengambil langkah untuk lebih dekat. Tubuhnya begitu ringkih, menggambarkan kesedihannya yang teramat mendalam. Sementara Seungri hanya tertunduk, seraya mulai meneteskan airmata lebih deras setelah mendengar pengakuan gadis itu. Hatinya bagai terkoyak menjadi serpihan-serpihan kecil tak beraturan yang tak dapat ia satukan lagi.

“Aku… aku kabur dari rumah dan pergi ke Gwangju hanya untuk menemuimu, Seungri-ya. Aku tak bisa menahan semua ini sendirian lagi… Aku tak ingin bersama lelaki itu… Yang aku inginkan hanyalah kau…”

Seungri mengelak. “Kumohon, tinggalkan aku Dongra. Kau… kau sudah menjadi miliknya.”

“Aku sudah memutuskan pertunangan kami, Seungri-ya. Dia bukan siapa-siapaku lagi. Aku hanya mencintaimu. Bagiku ia bukan siapa-siapa…”

Keduanya terdiam. Dongra menatap Seungri pilu, dengan matanya yang masih berkaca-kaca, penuh dengan airmata bagai tiada habisnya membanjiri wajahnya. Seungri menatap gadis yang saat itu tengah gemetaran, dengan secercah rasa iba yang perlahan tumbuh di hatinya.

‘Tap..Tap..Tap..’

Seungri melangkahkan kakinya perlahan ke arah tubuh ringkih gadis itu. Dipeluknya Dongra erat-erat, dirasakannya jantung Dongra yang berdegup kencang, bersahutan dengan degup jantungnya yang berdetak sama kencangnya. Gadis itu menangis kian keras. Kedua tangannya merangkul Seungri erat, membenamkan kepalanya di bahu Seungri yang tegap. Keduanya menangis, saat rasa hangat mulai menjalar ditengah hati mereka yang dingin.

“Mianhae…”

Hanya kata itu yang dapat terucap oleh Seungri, setelah apa yang ia lakukan selama hampir setahun lamanya. Sesal kini melingkupi hatinya setelah mendengar semua perkataan Dongra. Semua apa yang dianggapnya dapat menjadi sesuatu yang terbaik bagi gadis itu pun berubah menyakitinya. Namun penyesalam tidak lagi berarti bagi dua insan itu. Kini keduanya telah bersatu, dan berjanji untuk tak akan saling meninggalkan sampai selamanya.

“Tetaplah bersamaku, Seungri-ya…. Saranghae.”

Seungri mengelus kepala gadis itu lembut. Kebahagiaan menjalar ke seluruh tubuhnya yang hampir mati rasa, mengalir ke tubuh dingin Dongra yang kembali hangat akan sentuhannya. Gadis itu bersandar nyaman di bahu Seungri, seraya masih sesenggukan.

‘Klek’

Suara tarikan pelatuk mengejutkan mereka ditengah kesunyian malam. Berdiri seorang pemuda di ambang pintu, mengacungkan pistol tepat ke arah keduanya. Seungri terbelalak.

“Kalian semua harus mati. Pengkhianat!”

“J…Jiyong…?”

“Apa? Kau terkejut melihat kedatanganku? Kalian pikir aku akan membiarkan kalian hidup bahagia? Hah. Tidak akan pernah! Jika aku tak bisa memiliki Dongra, maka tak ada siapapun yang boleh memilikinya. Kalian… harus mati.”

Dongra kembali gemetaran. Dilihatnya jemari Jiyong yang mulai menarik pelatuk itu secara perlahan. Ketakutan menjalari sekujur tubuhnya, namun ia berpikir untuk tetap mempertahankan Seungri. Dengan sigap gadis itu berdiri di hadapan Jiyong, menutupi Seungri yang tepat berada di belakangnya.

“Bunuh aku.”

Seungri terkejut. Segera ia bangkit dan menarik gadis itu tepat disaat Jiyong menarik pelatuknya.

‘DOR!’

Bunyi peluru yang dilontarkan menggema di seluruh penjuru gedung. Dongra terpaku, melihat tubuh Seungri yang jatuh perlahan ke lantai setelah ditembus besi panas. Darah segar bercucuran dari dada pemuda itu, yang seketika membuat gadis itu menjerit.

Jiyong tertawa lirih. Segera ditinggalkannya tempat itu dengan tawanya yang licik. Namun belum sempat ia menginjakkan kaki meninggalkan tempat itu, sebuah hantaman keras di tengkuknya membuatnya jatuh pingsan.

Dongra segera menjatuhkan balok kayu yang ia gunakan barusan untuk memukul Jiyong. Ia berlari kecil ke arah Seungri yang sudah tak memiliki daya untuk bangkit. Tangis gadis itu pecah bersamaan dengan tangan dingin Seungri yang menyentuh kedua belah pipi gadis itu.

“Mianhae, Dongra-ah… Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu.”

“Kau… bodoh! Kau bilang kau tak ingin melihatku sedih… tapi… tapi mengapa, Seungri-ya? Sekarang kau memutuskan untuk pergi meninggalkanku..”

“Aku tak akan meninggalkanmu, Dongra-ah. Aku akan selalu ada di sampingmu…. Entah jika kau bisa merasakannya atau tidak. Aku janji.”

Dongra menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan rasa sakit yang kembali menjalar di sekujur tubuhnya. Perlahan mata Seungri mulai menutup rapat, meninggalkan sebutir airmata dan seberkas senyum di wajahnya. Tangis gadis itu kian kuat. Dipeluknya tubuh pemuda itu erat seiring dengan tangisnya yang semakin deras. Dirasakannya jantung Seungri yang masih berdetak pelan. Terkejut, ia pun segera berlari membawa tubuh Seungri pergi untuk mencari pertolongan.

Bertahanlah, Seungri-ya. Aku tahu kita akan selalu bersama. Bertahanlah, demi aku.

Tak lagi ia memperdulikan decakan heran orang-orang yang lewat dimalam hari itu. Tak lagi ia pedulikan bajunya yang basah berlumuran darah segar. Yang ia pedulikan hanya Seungri. Ya, Seungri seorang. Satu-satunya orang yang membawa serpihan hatinya pergi. Seseorang yang berani mengatakan tidak padahal sesungguhnya cinta.

Seseorang yang dapat membuatnya mengatakan cinta, disaat paling memilukan sekalipun.


I Don't Love You, a Fan Fiction made by bellehantise.
Pairing-- Seungri-Dongra*; Cast-- Jiyong
Genre -- Romance, Angst.
Disclaimer -- I don't own any of these characters (except for Dongra). But the story was originally made by the one and only bellehantise.

*) yourself


At last, you're not the least person to know. February 24th, 2011.

Labels: , , , ,

0 comments: leave a comment