I Don’t Love You
Alunan piano yang lembut mengalun di seluruh penjuru lorong. Sebuah ruangan, dengan satu-satunya ruangan yang memilki cahaya di seluruh penjuru gedung pun menjadi asal dari suara piano itu. Jemari seorang pemuda tengah bermain diantara tuts-tuts hitam dan putih dengan lincahnya, seolah tengah terbakar dalam api. Matanya menajam, seiring dengan alunan nada yang semakin meninggi. Gerakan tangannya pun semakin cepat, kian cepat bagai bukan memainkan peran sebagai dirinya sendiri.
‘Aaaarrgh!’
Geramnya saat alunan itu berakhir. Dentuman piano yang tertindih pun mulai terdengar jelas dari ruangan itu. Sang pemain meneriakan sebuah teriakan yang mungkin tak sebagus permainannya. Namun bagaimanapun, teriakan frustasi itu menjadi akhir dari permainannya tadi.
Nafasnya mulai terengah-engah. Dadanya serasa dihimpit oleh dua dinding tebal yang memisahkan ia dengan kuatnya dari nafas yang ia coba untuk raih. Perlahan-lahan, sebutir demi sebutir, airmata jatuh menetes di atas tuts-tuts piano yang kini menjadi tempatnya untuk bersandar. Tak lagi ia kuat untuk menahan semua masalah yang menghiasi hari-harinya belakangan.
Sesaat matanya tertuju pada sebuah bingkai foto di atas piano itu. Sebuah bingkai foto, dengan wajah seorang gadis berparas ayu terpatri di dalamnya. Kembali ia tertunduk, setelah rasa sesak di dalam dadanya yang bergejolak semakin kuat. Bulir-bulir airmata pun jatuh dengan deras dari pelupuk matanya, seolah tak lagi terbendung. Timbul sebuah harapan dari dalam hatinya untuk tak lagi merasakan sakit sedalam ini.
Tak sampai hati membiarkan dirinya jatuh terpuruk, ia pun bangkit dan melangkah ke arah sebuah jendela yang terbuka lebar. Angin malam yang menusuk tulang perlahan masuk dan menerpa tubuh tegapnya itu. Dipandanginya suasana kota malam hari yang bertaburan cahaya lampu seraya tersenyum sinis. Terlintas sebuah rencana di otaknya yang akan mengakhiri seluruh penderitaannya saat itu. Senyumnya mengembang, seiring dengan airmatanya yang kembali menetes dan pandangannya yang menerawang jauh ke atas langit gelap yang berhiaskan bintang.
Diambilnya sebuah kotak yang tak berada jauh dari jangkauannya. Dibukanya perlahan kotak itu dan diambilnya sebuah benda hitam berpelatuk yang terlihat dingin dan kejam. Diambilnya sederet peluru, dengan mantap dimasukkannya kedalam benda yang dipegangnya saat itu.
‘Krek.’
Ia tersenyum. Sebentar lagi penderitaanku akan berakhir, pikirnya. Diarahkannya benda berpelatuk itu ke arah kepalanya, seolah ingin membiarkan besi panas itu menembus otaknya. Ia tahu, ini semua adalah tindakan bodoh. Namun tak lagi ia peduli akan hal itu.
Ditariknya pelatuk itu perlahan. ‘Klek’
“Seungri-ya!”
Sebuah teriakan histeris menghentikan jemarinya untuk menarik pelatuk yang lain. Berdiri di hadapannya seorang gadis berparas ayu, yang wajahnya terpatri di dalam bingkai foto itu. Pemuda itu kini hanya membisu. Pistol yang digenggamnya itu kini tergeletak begitu saja di lantai yang dingin. Matanya terpaku pada mata bening yang kini menatapnya dengan tatapan terluka.
“Waeyo, Seungri-ya? Mengapa… mengapa kau harus melakukan ini?”
Tangan dinginnya mencengkeram kedua tangan Seungri erat. Pemuda itu hanya terdiam. Tak bisa dipercayainya bahwa orang yang ia cintai kini tengah berada di hadapannya, setelah sebelumnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya demi gadis itu. Bulir-bulir airmata perlahan meleleh di pipinya yang lembut, membuat Seungri kian merasa sesak.
Hatinya bergejolak hebat. Ingin sekali dielusnya lembut pipi gadis itu, mengakhiri semua kesedihan yang kini ada dalam hidupnya dan mengukir sebuah senyum di wajah ayunya. Namun kenyataan telah membantingnya ke tanah yang paling keras. Gadis di hadapannya itu kini telah menjadi milik orang lain.
Dengan kasar dilepasnya genggaman gadis itu. Kembali hatinya menjadi dingin setelah sesaat ia merasakan kebahagiaan yang amat sangat akan kehadiran gadis yang kini ada dihadapannya. Keterkejutan diwajahnya perlahan memudar, tergantikan oleh kebencian yang teramat dalam terhadap kenyataan yang harus ia hadapi sekarang.
“Ini bukan lagi urusanmu, Dongra. Kau tak perlu lagi datang untuk mencariku.”
“Sebegitu besarkah rasa bencimu kepadaku, Seungri-ya? Sebegitu cepatkah kau lupa akan segala kenangan yang sudah kita ukir?”
Seungri menggigit bibirnya keras-keras. Ingatannya seolah tergali kembali setelah ia coba untuk menguburnya dalam-dalam. Saat-saat kebersamaannya dengan gadis itu terputar kembali dibenaknya cepat, seolah berpacu dengan waktu. Digelengkannya kepalanya keras-keras, diremasnya rambutnya yang hitam legam dengan frustasi. Tak lagi ia menginginkan untuk menyimpan semua itu di dalam otaknya.
“Untuk apa lagi? Untuk apa lagi aku mengingat semuanya? Itu semua hanya akan membuatku semakin hancur, Dongra-ah… Kau kini sudah bersama Jiyong-hyung. Dan ia lebih pantas mendapatkanmu…”
“Pantas bagaimana?! Sebegitu cepatkah kau menyerah?!”
“Cukup, Dongra-ah! Cukup!! Turutilah apa kata kedua orangtuamu! Jiyong-hyung lebih kaya, dan lebih mapan daripada aku! Ia jelas lebih mampu menjagamu dan menjamin masa depanmu! Tak banyak yang bisa dilakukan seorang pemain piano amatir sepertiku! Mungkin membahagiakanmu saja aku tak bisa!”
Pipinya hangat disapu air mata. Seungri tak dapat lagi menahan semua beban di dalam dirinya. Sudah cukup pahit baginya merasakan setahun hidup tanpa Dongra, gadis yang teramat sangat ia cintai. Tak ada lagi hidup bagi dirinya untuk dapat ia nikmati.
Disadarinya gadis itu terdiam. Hanya suara tangisnya yang terdengar ditengah kesunyian malam. Sebuah rasa bersalah tumbuh cepat tepat di lubuk hatinya, setelah disadarinya ia telah membuat gadis itu menangis. Disambarnya tembok yang ada di dekatnya garang dengan tinju bertubi-tubi. Ia menggeram pelan, dengan penuh rasa penyesalan. Sesaat ia menghela napas panjang ditengah napasnya yang pendek terengah-engah.
“Persetan dengan semua itu! Aku tak peduli bagaimana masa depanku nantinya. Aku akan selalu bahagia jika kau ada bersamaku! Tidakkah kau mengerti itu?!”
Seungri terpaku, kembali pikirannya menerawang ke dalam memori-memori terdalamnya. Hasratnya tak dapat lagi terbendung untuk segera memeluk dan merangkul gadis itu erat-erat, dan berjanji padanya bahwa tak akan ia biarkan gadis itu lepas dari genggamannya. Namun sekali lagi ingatan pahit itu menahannya bagai dengan hanya satu komando.
“Hidupku tak pernah lagi bahagia sejak hari itu, Seungri-ya… Sejak kau pergi meninggalkanku di dermaga dan menyuruhku untuk menikah dengan lelaki itu.. Umma dan appa selalu memaksaku untuk tersenyum, namun aku tak bisa… Berulang kali aku masuk rumah sakit akibat kondisiku yang terus menerus menurun. Makan saja aku tak bisa, Seungri-ya…. Kau tak tahu itu.”
Perlahan Dongra yang menjauh dari Seungri kini mulai mengambil langkah untuk lebih dekat. Tubuhnya begitu ringkih, menggambarkan kesedihannya yang teramat mendalam. Sementara Seungri hanya tertunduk, seraya mulai meneteskan airmata lebih deras setelah mendengar pengakuan gadis itu. Hatinya bagai terkoyak menjadi serpihan-serpihan kecil tak beraturan yang tak dapat ia satukan lagi.
“Aku… aku kabur dari rumah dan pergi ke Gwangju hanya untuk menemuimu, Seungri-ya. Aku tak bisa menahan semua ini sendirian lagi… Aku tak ingin bersama lelaki itu… Yang aku inginkan hanyalah kau…”
Seungri mengelak. “Kumohon, tinggalkan aku Dongra. Kau… kau sudah menjadi miliknya.”
“Aku sudah memutuskan pertunangan kami, Seungri-ya. Dia bukan siapa-siapaku lagi. Aku hanya mencintaimu. Bagiku ia bukan siapa-siapa…”
Keduanya terdiam. Dongra menatap Seungri pilu, dengan matanya yang masih berkaca-kaca, penuh dengan airmata bagai tiada habisnya membanjiri wajahnya. Seungri menatap gadis yang saat itu tengah gemetaran, dengan secercah rasa iba yang perlahan tumbuh di hatinya.
‘Tap..Tap..Tap..’
Seungri melangkahkan kakinya perlahan ke arah tubuh ringkih gadis itu. Dipeluknya Dongra erat-erat, dirasakannya jantung Dongra yang berdegup kencang, bersahutan dengan degup jantungnya yang berdetak sama kencangnya. Gadis itu menangis kian keras. Kedua tangannya merangkul Seungri erat, membenamkan kepalanya di bahu Seungri yang tegap. Keduanya menangis, saat rasa hangat mulai menjalar ditengah hati mereka yang dingin.
“Mianhae…”
Hanya kata itu yang dapat terucap oleh Seungri, setelah apa yang ia lakukan selama hampir setahun lamanya. Sesal kini melingkupi hatinya setelah mendengar semua perkataan Dongra. Semua apa yang dianggapnya dapat menjadi sesuatu yang terbaik bagi gadis itu pun berubah menyakitinya. Namun penyesalam tidak lagi berarti bagi dua insan itu. Kini keduanya telah bersatu, dan berjanji untuk tak akan saling meninggalkan sampai selamanya.
“Tetaplah bersamaku, Seungri-ya…. Saranghae.”
Seungri mengelus kepala gadis itu lembut. Kebahagiaan menjalar ke seluruh tubuhnya yang hampir mati rasa, mengalir ke tubuh dingin Dongra yang kembali hangat akan sentuhannya. Gadis itu bersandar nyaman di bahu Seungri, seraya masih sesenggukan.
‘Klek’
Suara tarikan pelatuk mengejutkan mereka ditengah kesunyian malam. Berdiri seorang pemuda di ambang pintu, mengacungkan pistol tepat ke arah keduanya. Seungri terbelalak.
“Kalian semua harus mati. Pengkhianat!”
“J…Jiyong…?”
“Apa? Kau terkejut melihat kedatanganku? Kalian pikir aku akan membiarkan kalian hidup bahagia? Hah. Tidak akan pernah! Jika aku tak bisa memiliki Dongra, maka tak ada siapapun yang boleh memilikinya. Kalian… harus mati.”
Dongra kembali gemetaran. Dilihatnya jemari Jiyong yang mulai menarik pelatuk itu secara perlahan. Ketakutan menjalari sekujur tubuhnya, namun ia berpikir untuk tetap mempertahankan Seungri. Dengan sigap gadis itu berdiri di hadapan Jiyong, menutupi Seungri yang tepat berada di belakangnya.
“Bunuh aku.”
Seungri terkejut. Segera ia bangkit dan menarik gadis itu tepat disaat Jiyong menarik pelatuknya.
‘DOR!’
Bunyi peluru yang dilontarkan menggema di seluruh penjuru gedung. Dongra terpaku, melihat tubuh Seungri yang jatuh perlahan ke lantai setelah ditembus besi panas. Darah segar bercucuran dari dada pemuda itu, yang seketika membuat gadis itu menjerit.
Jiyong tertawa lirih. Segera ditinggalkannya tempat itu dengan tawanya yang licik. Namun belum sempat ia menginjakkan kaki meninggalkan tempat itu, sebuah hantaman keras di tengkuknya membuatnya jatuh pingsan.
Dongra segera menjatuhkan balok kayu yang ia gunakan barusan untuk memukul Jiyong. Ia berlari kecil ke arah Seungri yang sudah tak memiliki daya untuk bangkit. Tangis gadis itu pecah bersamaan dengan tangan dingin Seungri yang menyentuh kedua belah pipi gadis itu.
“Mianhae, Dongra-ah… Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu.”
“Kau… bodoh! Kau bilang kau tak ingin melihatku sedih… tapi… tapi mengapa, Seungri-ya? Sekarang kau memutuskan untuk pergi meninggalkanku..”
“Aku tak akan meninggalkanmu, Dongra-ah. Aku akan selalu ada di sampingmu…. Entah jika kau bisa merasakannya atau tidak. Aku janji.”
Dongra menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan rasa sakit yang kembali menjalar di sekujur tubuhnya. Perlahan mata Seungri mulai menutup rapat, meninggalkan sebutir airmata dan seberkas senyum di wajahnya. Tangis gadis itu kian kuat. Dipeluknya tubuh pemuda itu erat seiring dengan tangisnya yang semakin deras. Dirasakannya jantung Seungri yang masih berdetak pelan. Terkejut, ia pun segera berlari membawa tubuh Seungri pergi untuk mencari pertolongan.
Bertahanlah, Seungri-ya. Aku tahu kita akan selalu bersama. Bertahanlah, demi aku.
Tak lagi ia memperdulikan decakan heran orang-orang yang lewat dimalam hari itu. Tak lagi ia pedulikan bajunya yang basah berlumuran darah segar. Yang ia pedulikan hanya Seungri. Ya, Seungri seorang. Satu-satunya orang yang membawa serpihan hatinya pergi. Seseorang yang berani mengatakan tidak padahal sesungguhnya cinta.
Seseorang yang dapat membuatnya mengatakan cinta, disaat paling memilukan sekalipun.
I Don't Love You, a Fan Fiction made by bellehantise.
Pairing-- Seungri-Dongra*; Cast-- Jiyong
Genre -- Romance, Angst.
Disclaimer -- I don't own any of these characters (except for Dongra). But the story was originally made by the one and only bellehantise.
*) yourself
At last, you're not the least person to know. February 24th, 2011.
Labels: fanfic, g-dragon, kwon jiyong, lee seunghyun, seungri
Jujur, sejujur-jujurnya gue itu MKKB. Bukan berarti gue suka nangis kenceng di mall, atau ngerengek minta lollipop raksasa atau mainan, tapi MKKB yang lebih mengarah ke iri sama anak kecil. Gue iri banget sama anak kecil, karena gue sadar, semakin banyak kekhawatiran yang gue alami selama gue beranjak dewasa. Misalnya, khawatir kalo gue diketawain orang satu aula kalo gue ngelawak terlalu kenceng. Atau, takut salah pake kostum di hadapan orang-orang yang gue kenal. Coba seandainya gue masih seperti anak kecil, mau gue pake baju renang dan sepatu kodok di tengah pesta formal juga mungkin gue akan jalan dengan bangganya.
Yang lebih gue iri lagi, anak kecil itu bisa jujur. Sadar atau enggak, semakin dewasa umur kita, semakin sering kita bohong. Salah sedikit, boong. Bahkan sampai minjem duit orang kita juga bisa boong (baca: nyipet). Nggak jujur tentang kelakuan mereka juga, tapi juga hati. Kalo mereka marah, mereka bilang. Kalo mereka sedih, mereka akan nangis. Kalopun seneng, mereka pasti bakal ngelonjak kegirangan seperti anak ayam ketemu sama..... cacing gemuk (yeheee, pasti mau jawab ibunya kan? salaaaah).
Ngomong-ngomong soal perasaan, hal ini yang paling gue iri-in dari anak kecil.
Anak kecil nggak pernah mementingkan ego. Dan mereka nggak kenal kata gengsi!
Gue jadi inget kejadian yang terjadi dulu waktu gue masih kecil. Dulu gue termasuk anak paling populer di lingkungan rumah gue, karena gue anak esde paling tua di gang rumah gue. Berasa leader, nih. Mereka semua nggak pernah mau main kalo nggak ada gue, bahkan gue lagi mandi pun sampe ditungguin (bukan di dalem kamar mandi tentunya). Suatu hari, ada salah seorang temen yang nangisin anak lain. Gue marah, akibat faktor jiwa sosial gue yang besar gue getol pisan marahin anak-anak yang demen nangsiin anak orang. Eh ternyata, anak-anak lain ikutan marahin dia. Bully sekali, sih, tapi berhubung gue nggak tau apa itu bully waktu esde jadi dimaapin aja yak. Anak itu berkacak pinggang dengan sombongnya, dan memutuskan untuk musuhin kita semua. Akhirnya karena kesel, kita juga musuhin dan nggak mau ngajak dia main. But then, you know what happened next? Besoknya, kita semua udah baikan lagi, main petak umpet dan benteng-bentengan bareng lagi. And that's all because kids don't have ego.
See? Anak kecil memang gampang berantem. Tapi sekalinya mereka berantem, mereka akan baikan, bahkan nggak sampai satu hari. Cuma satu jam pun bagi mereka rasanya udah kayak nggak ada apa-apa. Dan itu semua karena mereka sama sekali nggak kenal ego maupun gengsi, nggak seperti kita.
Misalnya aja, hanya masalah sepele kita berantem, tapi berantemnya bisa sampe berhari-hari. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bahkan setahun pun jadi. Hanya karena masalah yang seharusnya bisa kita pecahkan dengan kepala dingin, kita menjadikan semuanya 'panas' dan bahkan bikin permusuhan yang nggak ada ujungnya. Bahkan diantara kita tidak ada yang mau saling minta maaf hanya karena ngerasa bener, atau gengsi.
Gue sering banget berantem sama temen deket gue waktu SMP dulu. Seringkali gue merasa awkward. Gimana enggak? Kita perang dingin di Twitter dan sindir-sindiran, di sekolah main kacang-kacangan dan saling melempar sindiran, dan segudang hal nyebelin lainnya yang bikin gue nggak nyaman. Meskipun ujung-ujungnya baikan, tapi hal itu berlangsung cukup lama dan akhirnya membatasi gue untuk deket sama mereka, dan semuanya gara-gara gengsi.
Dan gengsi cukup membawa bencana kalau menurut gue. Seandainya, kita lagi berantem dan sebagai manusia yang punya ego, kita gengsi dan nggak mau minta maaf. Sekecil apapun pertengakaran yang kita udah lewatin, dan belum selesai juga, pasti rasanya tetep ngeganjel di hati. We used to talk to someone, but now we choose to never talk to him/her again. That is totally awkward. Nggak sampe disitu aja. Seandainya kita satu sekolah atau satu tempat les sama orang itu, kita cenderung milih-milih tempat dan temen ngobrol. Mau ke kantin, ada musuh, nggak jadi ke kantin. Mau ngobrol sama temen, temen lagi ngobrol sama musuh, akhirnya milih untuk pergi. Nggak enak kan?
Kadang gue berpikir untuk punya sebuah pemikiran yang lebih clear dari sekarang. Gue pengen gue bisa hidup bebas seperti para anak kecil yang jadi inspirasi gue dalam menulis blog ini. Gue pengen hidup bebas untuk berkspresi, tanpa harus punya gengsi atau rasa malu. Gue pengen terhindar dari masalah-masalah gue, tanpa gengsi tentunya. Anggep aja urat malu lo putus men, lupakan sejenak realita, dan jangan ikutin ayam yang nelen karet. Be waras, and stay happy!
P.S: Sekarang gue lagi berantem sama salah satu temen gue hanya karena suatu masalah yang sepele. Doain aja kita dapet yang terbaik, readers. Thank you :D
At last, you're not the least person to know. February 4th, 2011.
Labels: curhat
Nightlights
Because the spotlight isn’t the only thing you should pay attention to, sometimes.
Kembali aku duduk disini, seperti malam-malam sebelumnya. Angin malam yang menusuk tulang bukanlah lawan bagiku. Gedung-gedung pencakar langit tak pernah menghalangi langkahku untuk meraih apa yang aku inginkan. Dan tentunya bukan ini alasanku untuk tetap disini.
Senyumku mengembang. Beratus-ratus bahkan beribu mobil kini sedang bersliweran di bawah kakiku yang menggantung. Gemerlapnya bagai ratusan kunang-kunang yang tengah berpesta, merayakan datangnya musim panas. Sungguh sebuah pemandangan yang tak terbayarkan. Dengan sigap aku berdiri, megambil ancang-ancang, dan HUP!
Seketika tubuhku melayang di udara, jatuh bebas.
Waktu serasa melambat, ketika angin menekan tubuhku kencang dan membuatku terasa segar. Kudengar teriakan orang-orang yang menyatu bagai lebah yang berdengung dengan bisingnya, terkejut akan apa yang baru saja mereka lihat. Tepat saat tubuhku hampir menyentuh tanah, kupijakkan kakiku, lalu kembali aku melompat ke atas gedung yang ada di hadapanku. Seketika kudengar suara mobil-mobil yang berdecit, disertai bunyi klakson panjang. Aku tertawa kecil, mengingat sudah beratus kali aku mengacaukan lalu lintas jalan raya kota ini setiap malam.
Inilah yang kulakukan setiap malam. Entah itu adalah sebuah pekerjaan yang bodoh atau bukan, tapi aku sangat menyukai apa yang aku lakukan sekarang.
Kudaratkan kakiku di setiap gedung yang aku temui. Kusadari tubuhku yang semakin dingin akibat terpaan angin malam dan tekanan angin saat aku jatuh bebas, dan akhirnya kuhentikan langkahku di gedung ke lima. Terengah-engah aku menarik nafas seraya kubaringkan tubuhku diatas atap gedung yang dingin. Kutatap langit yang bertaburan bintang di atas kepalaku.
“Percuma saja. Yang kau lihat hanyalah satelit.”
Sontak tubuhku terhentak bangun. Suara siapa itu tadi?
“Siapa kau?” tanyaku panik pada seseorang yang ada di sampingku sekarang. Seorang laki-laki dengan rambut yang lumayan tertata rapi, dan sweater hitam. Matanya cerah terkena terpaan sinar bulan, namun berkantung.
“Hahaha.”
Ia tertawa. Lalu ia tersenyum sedikit, kemudian memalingkan wajahnya ke arah langit yang gelap dan berhiaskan bintang. Atau satelit.
“Aku sama seperti kau. Seorang penikmat suasana malam di atas gedung pencakar langit.”
Lelaki ini misterius. Salah satu tipe yang paling kubenci dari setiap tipe manusia manapun di dunia. Namun aku hanya bisa menghela nafas dan terdiam. Selain karena memang degup jantungku masih belum stabil, aku hanya ingin mengikuti apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Kau tahu, suatu saat kau perlu mengikuti permainan orang-orang misterius macam ini untuk mengetahui siapa dia sebenarnya.
Ia masih menatap ke arah pemandangan dari atas gedung ini. Nampak jelas dimataku berbagai macam warna dari lampu-lampu jalan yang berkilauan, berpadu kontras dengan gelapnya langit malam ini. Gedung-gedung pencakar langit saling berlomba-lomba mencapai langit, tinggi menjulang hampir menembus awan. Lampu pesawat terbang berkelap-kelip diatas langit, yang entah mengapa membuatku tersenyum. Kulihat lelaki disampingku yang masih memandang pemandangan indah itu dengan senyum simpul yang menghiasi wajahnya.
“Mengapa kau suka pemandangan ini?”
Sejenak aku sedikit terkejut ketika ia secara tiba-tiba memalingkan wajahnya ke arahku. Namun aku hanya tersenyum, mencoba menunjukkan sisi kebanggaanku.
“Aku tak tahu. Rasanya seperti ada sesuatu hal yang membuatku selalu ingin tersenyum melihat gemerlap lampu malam. Seakan semua masalah yang aku hadapi hari ini menguap begitu saja dengan hanya berdiri sendiri di atas gedung seperti ini.”
Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum. Keningku sedikit berkerut. Heran, lelaki ini seperti tak memiliki rasa lelah untuk selalu tersenyum.
“Bagaimana denganmu? Kulihat kau seolah senang dengan pemandangan seperti ini.”
Ia melangkah pelan ke arah sisi lain gedung, diiringi langkahku yang berada tepat di sampingnya.
“Sama sepertimu, aku juga tidak tahu. Tapi aku merasa seolah… well, terkadang sesuatu yang indah tak harus dilihat dari satu sisi saja.”
“Maksudmu?”
Ia tertawa kecil, lalu memutar badannya dan berbalik ke arahku. “Ya, seperti ini.”
Tangannya terbuka lebar bagai hendak membelah langit. Kulihat arah yang ditunjuknya. Seketika semua lampu jalan yang berkelap-kelip itu mendadak mati secara bersamaan. Gemuruh keluhan orang-orang di seluruh kota terdengar dari semua penjuru, seiring dengan mulutku yang hampir menganga. Sejenak terpikir olehku tentang apa yang seharusnya kupikirkan sejak tadi.
Lalu tangannya kembali turun, dan seketika semua listrik pun kembali menyala. Gemerlap lampu kota pun kembali nampak. Menakjubkan.
“See? Sesuatu yang terang dapat menunjukkan sisi indahnya saat ia menjadi gelap. Yeah, mungkin kau tak merasakan keindahan itu. Tapi bagiku, melihat ekspresi terkejut orang-orang itu membuatku sedikit merasa ajaib.”
“Uhm, sebenarnya, aku melakukan hal yang sama.”
“Benarkah? Seperti apa?”
Kutarik tangannya ke tepian atap gedung, dan aku mulai bersiap dengan ancang-ancangkku untuk melompati gedung.
“Pegangan yang erat.”
Aku mulai melompat, dan aku bisa merasakan betul tangannya yang tegang menggenggam tanganku erat. Senyum jahilku pun mengembang, dan segera kupantulkan kembali diriku untuk melompat ke arah gedung yang satunya. Kulihat beberapa orang memandang kami takjub saat aku melompat tinggi.
“Kita sudah sampai.” kataku tepat saat kita mendarat. Kulihat wajahnya sedikit pucat dan nafasnya terengah-engah.
“Whoah. Fantastic.”
“Dan kau lihat betapa terkejutnya wajah orang-orang disana? Sama persis saat kau mematikan seluruh aliran listrik di kota ini. Itu yang baru kusebut menyenangkan.”
“Terlebih saat kau memiliki banyak masalah. Their expressions were so priceless.”
Aku tertawa. Seketika ia mengulurkan tangannya, dan lagi-lagi tersenyum.
“Lee Seunghyun. The most electrified man all over South Korea.”
Kuraih jabatan tangannya hangat, dan seketika sebuah aliran listrik mengalir menuju ke dadaku. Bukan aliran listrik yang biasa ia ‘mainkan’, namun aliran listrik lain, yang membuat jantungku berdegup kencang.
“Kwon Jiyong. Zero gravity man.”
“Kurasa hanya kita berdua yang mewariskan keturunan orang-orang yang memiliki kekuatan hebat seperti kita ini.”
“Yeah. Kurasa.”
-------------------------------------------------
Rasanya begitu indah mengingat saat-saat dimana pertama kali kami bertemu, di atas atap sebuah gedung malam itu. Gemerlap lampu kota malam itu terekam jelas dalam bayangan, saat aliran kami beradu dan senyum kami menghiasi setiap sudut pandang kami masing-masing.
Itulah yang tak kami rasakan saat pertemuan pertama itu , yang jujur sedikit kusesali.
“Jiyong-ah?”
Seketika aku tersadar dari lamunanku. Kutatap seseorang yang tengah bermanja di lengan kananku. Seorang Lee Seunghyun, yang tak lain adalah Seungri, yang kini tengah tersenyum ke arahku.
“Hmm?”
“Kemana kita akan pergi sekarang? Hari sudah semakin gelap.”
Sebuah senyum lebar menghiasi wajahku. Aku tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
“Kau siap?”
Ia tertawa. Ditariknya lenganku ke arah sebuah gang sepi, kemudian digandengnya erat tanganku, seolah bisa membaca apa yang aku katakan.
“Tentu.”
Kuambil ancang-ancang untuk segera melompat ke atas gedung yang ada di atas sana. Seiring dengan lampu jalan yang mulai menyala keseluruhannya, kami berdua melesat ke atas langit, dan mendarat di atas sebuah gedung. Kami duduk, menggantungkan kedua kaki kami di tepian gedung. Disandarkannya kepalanya itu ke pundakku, dan dengan lembut kukecup pelan keningnya.
“Saranghae, Jiyong-ah!”
Diangkatnya sebelah tangannya itu, dan seketika semua lampu di kota itu pun meredup, membentuk sebuah gambar hati raksasa yang terlihat jelas dari atas atap gedung ini.
“Saranghaeyo, Seungri-ya.”
Aku, Kwon Jiyong, sang lelaki yang tak kenal gravitasi.
Kini akan selamanya bersatu dengan seorang Lee Seunghyun, sang lelaki berkekuatan listrik.
Bersama kami melihat segala sesuatunya dari sisi yang berbeda.
Termasuk melihat suatu cahaya dalam kegelapan, dan suatu rasa senang dari sebuah ketakutan.
--Fin.
Pairing-- G-Ri (G-Dragon/Seungri)
Genre -- Romance.
Disclaimer -- I don't own any of these characters. But the story was originally made by the one and only bellehantise.
At last, you're not the least person to know. February 4th, 2011.
Labels: bigbang, fanfic, g-dragon, g-ri, seungri


