Nightlights
Because the spotlight isn’t the only thing you should pay attention to, sometimes.
Kembali aku duduk disini, seperti malam-malam sebelumnya. Angin malam yang menusuk tulang bukanlah lawan bagiku. Gedung-gedung pencakar langit tak pernah menghalangi langkahku untuk meraih apa yang aku inginkan. Dan tentunya bukan ini alasanku untuk tetap disini.
Senyumku mengembang. Beratus-ratus bahkan beribu mobil kini sedang bersliweran di bawah kakiku yang menggantung. Gemerlapnya bagai ratusan kunang-kunang yang tengah berpesta, merayakan datangnya musim panas. Sungguh sebuah pemandangan yang tak terbayarkan. Dengan sigap aku berdiri, megambil ancang-ancang, dan HUP!
Seketika tubuhku melayang di udara, jatuh bebas.
Waktu serasa melambat, ketika angin menekan tubuhku kencang dan membuatku terasa segar. Kudengar teriakan orang-orang yang menyatu bagai lebah yang berdengung dengan bisingnya, terkejut akan apa yang baru saja mereka lihat. Tepat saat tubuhku hampir menyentuh tanah, kupijakkan kakiku, lalu kembali aku melompat ke atas gedung yang ada di hadapanku. Seketika kudengar suara mobil-mobil yang berdecit, disertai bunyi klakson panjang. Aku tertawa kecil, mengingat sudah beratus kali aku mengacaukan lalu lintas jalan raya kota ini setiap malam.
Inilah yang kulakukan setiap malam. Entah itu adalah sebuah pekerjaan yang bodoh atau bukan, tapi aku sangat menyukai apa yang aku lakukan sekarang.
Kudaratkan kakiku di setiap gedung yang aku temui. Kusadari tubuhku yang semakin dingin akibat terpaan angin malam dan tekanan angin saat aku jatuh bebas, dan akhirnya kuhentikan langkahku di gedung ke lima. Terengah-engah aku menarik nafas seraya kubaringkan tubuhku diatas atap gedung yang dingin. Kutatap langit yang bertaburan bintang di atas kepalaku.
“Percuma saja. Yang kau lihat hanyalah satelit.”
Sontak tubuhku terhentak bangun. Suara siapa itu tadi?
“Siapa kau?” tanyaku panik pada seseorang yang ada di sampingku sekarang. Seorang laki-laki dengan rambut yang lumayan tertata rapi, dan sweater hitam. Matanya cerah terkena terpaan sinar bulan, namun berkantung.
“Hahaha.”
Ia tertawa. Lalu ia tersenyum sedikit, kemudian memalingkan wajahnya ke arah langit yang gelap dan berhiaskan bintang. Atau satelit.
“Aku sama seperti kau. Seorang penikmat suasana malam di atas gedung pencakar langit.”
Lelaki ini misterius. Salah satu tipe yang paling kubenci dari setiap tipe manusia manapun di dunia. Namun aku hanya bisa menghela nafas dan terdiam. Selain karena memang degup jantungku masih belum stabil, aku hanya ingin mengikuti apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Kau tahu, suatu saat kau perlu mengikuti permainan orang-orang misterius macam ini untuk mengetahui siapa dia sebenarnya.
Ia masih menatap ke arah pemandangan dari atas gedung ini. Nampak jelas dimataku berbagai macam warna dari lampu-lampu jalan yang berkilauan, berpadu kontras dengan gelapnya langit malam ini. Gedung-gedung pencakar langit saling berlomba-lomba mencapai langit, tinggi menjulang hampir menembus awan. Lampu pesawat terbang berkelap-kelip diatas langit, yang entah mengapa membuatku tersenyum. Kulihat lelaki disampingku yang masih memandang pemandangan indah itu dengan senyum simpul yang menghiasi wajahnya.
“Mengapa kau suka pemandangan ini?”
Sejenak aku sedikit terkejut ketika ia secara tiba-tiba memalingkan wajahnya ke arahku. Namun aku hanya tersenyum, mencoba menunjukkan sisi kebanggaanku.
“Aku tak tahu. Rasanya seperti ada sesuatu hal yang membuatku selalu ingin tersenyum melihat gemerlap lampu malam. Seakan semua masalah yang aku hadapi hari ini menguap begitu saja dengan hanya berdiri sendiri di atas gedung seperti ini.”
Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum. Keningku sedikit berkerut. Heran, lelaki ini seperti tak memiliki rasa lelah untuk selalu tersenyum.
“Bagaimana denganmu? Kulihat kau seolah senang dengan pemandangan seperti ini.”
Ia melangkah pelan ke arah sisi lain gedung, diiringi langkahku yang berada tepat di sampingnya.
“Sama sepertimu, aku juga tidak tahu. Tapi aku merasa seolah… well, terkadang sesuatu yang indah tak harus dilihat dari satu sisi saja.”
“Maksudmu?”
Ia tertawa kecil, lalu memutar badannya dan berbalik ke arahku. “Ya, seperti ini.”
Tangannya terbuka lebar bagai hendak membelah langit. Kulihat arah yang ditunjuknya. Seketika semua lampu jalan yang berkelap-kelip itu mendadak mati secara bersamaan. Gemuruh keluhan orang-orang di seluruh kota terdengar dari semua penjuru, seiring dengan mulutku yang hampir menganga. Sejenak terpikir olehku tentang apa yang seharusnya kupikirkan sejak tadi.
Lalu tangannya kembali turun, dan seketika semua listrik pun kembali menyala. Gemerlap lampu kota pun kembali nampak. Menakjubkan.
“See? Sesuatu yang terang dapat menunjukkan sisi indahnya saat ia menjadi gelap. Yeah, mungkin kau tak merasakan keindahan itu. Tapi bagiku, melihat ekspresi terkejut orang-orang itu membuatku sedikit merasa ajaib.”
“Uhm, sebenarnya, aku melakukan hal yang sama.”
“Benarkah? Seperti apa?”
Kutarik tangannya ke tepian atap gedung, dan aku mulai bersiap dengan ancang-ancangkku untuk melompati gedung.
“Pegangan yang erat.”
Aku mulai melompat, dan aku bisa merasakan betul tangannya yang tegang menggenggam tanganku erat. Senyum jahilku pun mengembang, dan segera kupantulkan kembali diriku untuk melompat ke arah gedung yang satunya. Kulihat beberapa orang memandang kami takjub saat aku melompat tinggi.
“Kita sudah sampai.” kataku tepat saat kita mendarat. Kulihat wajahnya sedikit pucat dan nafasnya terengah-engah.
“Whoah. Fantastic.”
“Dan kau lihat betapa terkejutnya wajah orang-orang disana? Sama persis saat kau mematikan seluruh aliran listrik di kota ini. Itu yang baru kusebut menyenangkan.”
“Terlebih saat kau memiliki banyak masalah. Their expressions were so priceless.”
Aku tertawa. Seketika ia mengulurkan tangannya, dan lagi-lagi tersenyum.
“Lee Seunghyun. The most electrified man all over South Korea.”
Kuraih jabatan tangannya hangat, dan seketika sebuah aliran listrik mengalir menuju ke dadaku. Bukan aliran listrik yang biasa ia ‘mainkan’, namun aliran listrik lain, yang membuat jantungku berdegup kencang.
“Kwon Jiyong. Zero gravity man.”
“Kurasa hanya kita berdua yang mewariskan keturunan orang-orang yang memiliki kekuatan hebat seperti kita ini.”
“Yeah. Kurasa.”
-------------------------------------------------
Rasanya begitu indah mengingat saat-saat dimana pertama kali kami bertemu, di atas atap sebuah gedung malam itu. Gemerlap lampu kota malam itu terekam jelas dalam bayangan, saat aliran kami beradu dan senyum kami menghiasi setiap sudut pandang kami masing-masing.
Itulah yang tak kami rasakan saat pertemuan pertama itu , yang jujur sedikit kusesali.
“Jiyong-ah?”
Seketika aku tersadar dari lamunanku. Kutatap seseorang yang tengah bermanja di lengan kananku. Seorang Lee Seunghyun, yang tak lain adalah Seungri, yang kini tengah tersenyum ke arahku.
“Hmm?”
“Kemana kita akan pergi sekarang? Hari sudah semakin gelap.”
Sebuah senyum lebar menghiasi wajahku. Aku tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
“Kau siap?”
Ia tertawa. Ditariknya lenganku ke arah sebuah gang sepi, kemudian digandengnya erat tanganku, seolah bisa membaca apa yang aku katakan.
“Tentu.”
Kuambil ancang-ancang untuk segera melompat ke atas gedung yang ada di atas sana. Seiring dengan lampu jalan yang mulai menyala keseluruhannya, kami berdua melesat ke atas langit, dan mendarat di atas sebuah gedung. Kami duduk, menggantungkan kedua kaki kami di tepian gedung. Disandarkannya kepalanya itu ke pundakku, dan dengan lembut kukecup pelan keningnya.
“Saranghae, Jiyong-ah!”
Diangkatnya sebelah tangannya itu, dan seketika semua lampu di kota itu pun meredup, membentuk sebuah gambar hati raksasa yang terlihat jelas dari atas atap gedung ini.
“Saranghaeyo, Seungri-ya.”
Aku, Kwon Jiyong, sang lelaki yang tak kenal gravitasi.
Kini akan selamanya bersatu dengan seorang Lee Seunghyun, sang lelaki berkekuatan listrik.
Bersama kami melihat segala sesuatunya dari sisi yang berbeda.
Termasuk melihat suatu cahaya dalam kegelapan, dan suatu rasa senang dari sebuah ketakutan.
--Fin.
Pairing-- G-Ri (G-Dragon/Seungri)
Genre -- Romance.
Disclaimer -- I don't own any of these characters. But the story was originally made by the one and only bellehantise.
At last, you're not the least person to know. February 4th, 2011.
Labels: bigbang, fanfic, g-dragon, g-ri, seungri

