
Labels: look
Oh gosh, it's finally here again people. It's like been a while but now I realized, OMG it has been weeks ago! I'm missing the time of messing around with this dorky blog. Ooops, it means adorkable. ;)

Labels: curhat
Labels: curhat

Title: Riverside
Genre: Hurt/Comfort
Language: Indonesian
Cast: Lee Seunghyun (Seungri), Kim Hanyeon (yourself).
Rate: T
A/N: Warning for bad ending, character death, dan ide yang sangat ngablu sekaligus sadis. But still, enjoy :)
"Hanyeon,"
Seketika langkahnya pun turut terhenti. Nafasnya naik-turun, terdengar begitu lelah dan terengah-engah. Kudengar isak tangisnya yang terdengar pelan itu mulai tertangkap telingaku, melawan suara aliran sungai yang mengalir lembut. Angin yang bertiup sepoi-sepoi mulai meniup rambutnya hingga tertiup pelan, namun tak meniup semangatnya untuk tetap menghindariku. Kulihat ia masih berdiri tegap, menatap tajam sungai yang membentang di hadapannya.
"Kumohon, hentikan semua ini,"
"Percuma saja. Percuma saja aku berhenti."
Kulangkahi sedikit demi sedikit jarak yang membatasi kami. Kuberanikan diri untuk bertanya, menghapus tanda tanya besar yang mulai menyiksaku.
"Mengapa? Tidakkah kesempatan itu belum begitu terlambat bagimu?"
"Sudah terlambat. Sebentar lagi… semua itu akan berhenti dengan sendirinya."
Ia kembali terdiam. Masih berdiri tegak, bersama semua ego dan kekerasan hatinya. Ia hanya mematung disana, bagai terpengaruh sebuah sihir yang memaksanya untuk diam. Tangisnya tak kembali terdengar. Apakah ini memang suatu keputusan yang diambilnya? Ataukah Tuhan mendengar doaku?
Doa dimana aku berharap, bahwa lebih baik aku menjadi tuli daripada harus mendengar tangisannya?
Entah ada berapa harapan yang telah kugantungkan. Setelah semua usaha yang kulakukan hanya membawa petaka, aku kini hanya bisa berharap. Berharap bahwa Tuhan akan mendengarnya, dan menunggu sampai itu terjadi. Bagaikan hanya menggantungkan harapanku di pohon bambu, lalu menunggu dengan sabar sampai itu terjadi, atau hilang begitu saja ditiup angin malam.
Aku tahu, saat ini aku telah kehilangan bagian dari diriku. Bagian dimana aku memiliki kepercayaan diri seperti apa yang selalu kumiliki dulu. Sama sekali tak kusangka bahwa tiga tahun penuh penderitaan itu telah mengubah sebagian besar dari diriku. Entah tiga tahun itu, atau gadis di hadapanku ini yang mengambil semuanya pergi.
Karena kusadari bahwa ialah salah satu bagian dari diriku yang hilang.
"Kumohon, jangan—"
"Pergilah. Tak ada gunanya lagi kau menemuiku."
Angin sore itu bertiup semakin kencang. Udara pun mendingin, bagaikan pisau yang menusuk-nusuk tulangku. Kulihat tubuhnya mulai gemetaran, menyadari one-piece dress itu tak lagi dapat membuatnya hangat. Sesekali ia mengusap-usap kedua lengannya, ingin membuatnya hangat. Namun kulihat ia tetap berusaha untuk berdiri tegak, agar ia terlihat kuat dimataku. Hanyeon, tidakkah kau lelah untuk selalu berpura-pura kuat dihadapanku?
Kusadari betul ia telah menapakkan kaki-kaki telanjangnya ke arah yang salah. Bagi mereka ia telah mengambil jalan yang bodoh, dan aku menjadi lebih bodoh dengan membiarkannya begitu saja. Tetapi aku merasa bahwa aku lebih bodoh dari yang mereka pikir, karena aku baru mengetahui rahasia itu. Rahasia menyakitkan yang disembunyikannya selama hampir dua tahun lamanya.
"Ah."
Kudengar rintihannya pelan. Tubuh pucat dan ringkihnya itu seketika terhempas ke tanah. Namun kulihat ia tetap duduk di tempatnya berdiri, sama sekali tak merebahkan diri meskipun ia tahu persis akan kondisinya yang begitu lemah. Nafasnya cepat, terngah-engah menahan rasa sakit yang perlahan mendoktrin tubuhnya. Ia hanya menatap rerumputan itu lemah, masih mengatur nafasnya yang berlari kian cepat.
Sekali lagi kulangkahi jarak yang masih memisahkan kami. Kuletakkan sebelah tanganku melingkari pundaknya, mencoba menghangatkannya ditengah suasana hatiku yang kacau dan tak menentu.
"Oppa, apa yang kau—"
"Sudahlah, jangan banyak bicara."
"Tapi aku tidak membutuhkan semua ini."
"Diamlah. Jangan berusaha lebih banyak lagi. Kau sudah hampir melebihi batas kemampuanmu."
Ia terdiam, kembali melarutkan diri ditengah semua kekacauan hatinya lagi. Aku tahu betul, aku sudah banyak menyakiti hatinya dengan mencari tahu soal rahasia itu. Namun aku benar-benar membutuhkannya. Kekhawatiranku sudah begitu haus akan kebenaran, dan kini kekhawatiranku berubah drastis, bagai mati melahap sebotol racun. Biarlah itu terjadi. Toh, akulah yang menginginkan semua ini sejak awal.
"Mengapa kau masih disini?"
Aku tertawa pelan. Hanyeon, mengapa kau begitu bodoh untuk mengetahui ini semua?
"Aku rasa kau sudah tahu jawabannya."
"Apa? Karena kau mengasihani aku? Aku yang sekarat ini?"
"Aku tidak mengasihanimu. Aku peduli padamu."
Hari semakin gelap. Angin mulai menajam, berubah menjadi kejam tanpa ampun. Kubuka jaket kulit tebalku, yang kemudian kusampirkan di bahu Hanyeon. Ia jauh lebih membutuhkannya daripada aku. Ia menoleh, masih dengan egoismenya, tersenyum tipis ke arahku. Kupeluk tubuh ringkihnya itu makin erat, menghangatkan hatinya yang beku.
Kurasakan penyakit itu mulai menggerogoti syarafku satu persatu, menikam-nikam otakku dengan belati tajam tak terperi. Tak sengaja raunganku terlepas dan mencapai telinga Hanyeon.
"Oppa?"
"Lupakan. Anggap aku kram."
"Jangan berbohong. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku."
Aku tak kuasa menahan rasa sakit ini. Kubenamkan wajahku di pundaknya, merasakan lembutnya angin yang meniup rambut lembutnya yang mengenai wajahku. Aku tahu aku harus bisa menahan ini semua. Entah meski aku tahu, aku semakin pesimis dengan hidupku sendiri. Namun aku belum siap membiarkannya tahu.
Kudengar ia kembali terisak. Kurasakan tangannya yang dingin mulai membelai lembut kepalaku, yang jujur mulai mengurangi rasa sakit yang menikamku tajam itu. Sekilas kulihat ia meremas secarik kertas putih di tangan kanannya.
Tunggu…. Itu….
---
Hanyeon mulai meneteskan air mata. Dielusnya kepala Seungri lembut, perlahan menyisipkan jari-jari kecilnya di antara rambut lelaki itu. Ditatapnya secarik kertas yang ada di tangannya dengan mata nanar, membuatnya menyesal telah merogoh kantung jaket kulit hitam itu.
Status penyakit: Kanker Otak (Stadium 4)
"Sudah berapa lama kau sembunyikan semua ini?"
Lawan bicaranya itu tak menjawab. Nafasnya masih naik turun, bersahutan dengan nafas miliknya yang masih tertahan akibat rasa sakit itu. Yang didengar Hanyeon hanyalah pancaran rasa sakit yang kini tengah menyerang Seungri.
"Hampir sama sepertimu."
Dirangkulnya Seungri lembut, penuh penyesalan akan keegoisannya menghindari pria itu. Ia tahu, ia telah membuat kesalahan yang begitu besar dengan membuat langkah-langkah yang tanpa pemikiran panjang. Baginya, hanya dengan menyimpan semua inilah satu-satunya cara untuk melihat senyum dari bibir Seungri. Namun, tanpa disadarinya, ia telah membuat lelaki yang dicintainya itu harus melewati semua masa-masa berat yang juga dialaminya itu, sendirian.
Maafkan aku, oppa. Aku telah membuat sebuah kesalahan besar dengan membiarkanmu sendiri melewati semua ini. Maafkan aku…
Rasa sakit saat ini bagai menikam Hanyeon bertubi-tubi. Sakit akibat leukemia yang menyerang dirinya, dan rasa sakit setelah mengetahui bahwa Seungri juga tengah mengidap penyakit yang sama seriusnya. Perih menjalar di dalam tubuhnya, menorehkan bekas luka yang mendalam dan tak dapat disembuhkan oleh siapapun. Di tubuh, maupun di hatinya.
Seketika sebuah tangan yang dingin mengusap kedua belah pipinya dan menghapus airmatanya. Dilihatnya Seungri yang tengah tersenyum di sampingnya, menahan sakit yang kini juga tengah mendera tubuhnya yang tegap.
"Sudahlah, tak ada yang perlu kau tangisi. Semuanya sudah berlalu."
"Berlalu? Kau masih mengidap penyakit itu dan kau bilang semuanya sudah berlalu? Oppa, kau…"
"Biarkanlah semua masa-masa yang kau sesali itu. Mereka semua sudah berlalu."
Nampak sebuah kesunyian diantara mereka berdua. Hanya suara angin malam dan gesekan lembut rerumputan yang mengisi detik-detik penuh kesunyian itu. Keduanya masih saling berpikir, menata semua kekacauan yang terjadi di dalam hati mereka. Semua rahasia ini muncul dengan begitu mendadak, menghancurkan ruang-ruang kecil di hati mereka seketika.
"Ah!"
Hanyeon mengerang. Rasa tajam yang menusuk-nusuk itu mulai kembali menikam tulang-tulangnya perlahan. Dirasakan tubuh ringkihnya yang mulai melemah, seiring dengan mendinginnya angin di malam itu. Dengan sigap Seungri menahan tubuhnya, mendekap Hanyeon lembut di dalam pelukannya.
Erangan Hanyeon perlahan terhenti. Rasa sakit itu berangsur pulih, seiring dengan kehangatan Seungri yang mulai menjalar ke tubuhnya. Lembut, mengalir ke hatinya yang dingin. Rasa itu begitu indah, sampai ia pun dapat merasakan cinta Seungri yang begitu dalam dari dekapan itu. Sejenak dilupakannya segala sesal serta perih yang menguasai hatinya itu.
"Bagaimana? Merasa lebih baik?"
"Tentu."
Seungri tersenyum. Dilihatnya gadis itu mulai melemah, seiring dengan tubuhnya yang kian rentan.
"Hanyeon,"
"Ya?"
"Aku… aku hanya ingin meminta maaf. Maaf untuk tidak berada disampingmu saat kau membutuhkanku."
"Aish, jangan berbicara seperti itu. Ini semua salahku, oppa. Jika saja aku tidak merahasiakan semua ini,pasti kau tak perlu merasa bersalah. Justru aku yang tidak berada di sisimu saat kau membutuhkanku."
"Jangan, Hanyeon. Jangan berkata seperti itu,"
Dielusnya perlahan rambut gadis itu, seraya menatap wajah ayunya yang pucat. Dikecupnya kening gadis itu, setelah hampir setahun lamanya mereka terpisah akibat rahasia-rahasia menyakitkan itu.
"Anggap kita sudah impas."
Hanyeon tersenyum. Sudah lama dirindukannya masa-masa itu. Masa-masa saat mereka masih sering menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama, seolah waktu kian melambat dan membiarkan mereka menikmati masa-masa itu. Dilihatnya juga rasa itu dari mata Seungri yang dilihatnya kian lelah dan merana, menahan sakit yang kini dideritanya. Mendadak ia merasakan sebuah firasat aneh dari detik-detik yang terus berjalan itu. Firasat yang mengatakan bahwa ia tak memiliki banyak waktu lagi.
Tiba-tiba saja darah mengucur deras dari hidung Hanyeon, membasahi pakaian yang dikenakannya. Spontan diusapnya darah yang menodai wajahnya, berusaha menutupinya dari Seungri. Namun terlambat, wajah Seungri sudah terlihat panik.
"Hanyeon, kau…"
"Aku… aku baik-baik saja."
"Perlukah aku membawamu pulang ke rumah Daesung hyung?"
Seketika diraihnya tangan Seungri, dan digenggamnya erat-erat. Dirasakannya tangan Seungri yang dingin, dan perlahan melemah akibat rasa sakit yang ditahannya.
"Jangan. Aku ingin berada disini bersama oppa."
"Tapi…"
"Ingatkah oppa tentang malam tahun baru waktu itu? Oppa berjanji akan mengajakku menikmati malam berbintang di rerumputan seperti ini, karena saat itu hujan turun dengan deras?"
"Iya, tentu aku ingat."
"Aku ingin kau menepatinya, oppa. Sekarang."
"Tapi, Hanyeon, kau…"
"Kumohon, oppa. Sebelum aku mati."
---
Aku terhenyak mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Hanyeon. Seakan semua pertahananku runtuh, dan semua rasa sakit ini siap meledak-meledak di atas kepalaku. Hanya Hanyeon satu-satunya semangatku untuk tetap hidup dan bertahan dari semua penyakit yang melelahkan ini. Jika ia pergi, aku tak tahu apa yang harus kulakukan setelahnya. Aku bahkan tak tahu bagaimana aku harus hidup tanpanya.
Namun sejenak, aku juga merasakan firasat yang sama. Firasat bahwa waktu yang kumiliki mungkin tak lebih dari 24 jam. Aku bisa merasakan betapa cepatnya penyakit ini menggerogoti organ-organ tubuhku, seiring dengan semakin melemahnya kekuatan yang ada di dalam diriku. Mungkin aku memang harus menepati janji yang Hanyeon pinta.
Kurebahkan tubuhnya di atas rerumputan yang dingin, bergoyang mengikuti angin. Kurebahkan diriku sendiri tepat disampingnya, menggenggam tangannya yang begitu dingin dan lemah.
Aku tahu ini sebuah keputusan yang bodoh. Benar-benar bodoh, bahkan jauh lebih bodoh dari sebelumnya. Namun yang aku inginkan saat ini hanyalah menghabiskan waktu bersama orang yang paling aku cintai. Satu-satunya cinta yang kumiliki saat ini.
"Kau yakin kau tak akan apa-apa?"
Kulihat senyumnya begitu mengembang, meskipun kulihat bibirnya memucat dan angin dingin itu sepertinya mulai melemahkan fungsi tubuhnya. Ingin sekali rasanya kubawa ia pergi kembali ke rumahnya. Namun aku pun tak jauh berbeda dari Hanyeon. Lemah, dan tak berdaya. Aku pun tak kuasa melawan pintanya untuk tetap disini, juga firasatku yang begitu kuat akan sisa waktu yang kumiliki.
"Aku yakin, oppa. Selama ada kau disini, aku yakin aku akan baik-baik saja."
Kutatap wajahnya sekali lagi, kali ini lebih berarti. Ah, Hanyeon… Betapa ingin rasanya aku hidup lebih lama lagi bersamamu. Betapa ingin aku berada di sisimu lebih lama lagi, membisikkan kata-kata cintaku untukmu di setiap hari-harimu, menghangatkanmu dari dingin dan kejamnya dunia yang sedang kita hadapi sekarang. Namun kini, aku akan menggunakan waktu ini sebaik-baiknya. Aku ingin melakukan semua itu di sisa waktuku yang mungkin tak terlalu panjang ini. Aku ingin mencintaimu lebih dalam, mengisi waktu-waktu yang hilang dulu.
"Hanyeon,"
"Ya, oppa?"
"Anggap ini sebagai ganti dari waktu yang kita sia-siakan dulu."
Hanyeon tersenyum. Kurasakan pelukannya yang bertambah erat terhadapku, seolah tak membiarkan aku pergi lagi dari sisinya. Kulihat bintang-bintang pun mulai memancarkan sinarnya, seolah mengawasi kami dari atas sana. Merekalah saksi bisu akan semua waktu yang tengah kami habiskan ini. Saksi bisu, yang mengantarkan kami ke tempat yang akan kami tuju.
"Oppa, terima kasih. Aku… sangat bahagia."
Kutatap wajah Hanyeon, yang mulai memucat akibat sakit yang dideritanya. Kuhapus darah yang mengalir melalui hidungnya dengan saputanganku, seraya menahan perih melihat betapa besar penderitaan yang dialaminya. Aku ingin suatu saat aku diijinkan untuk menghapus semua penderitaan itu darinya, setidaknya untuk satu kali seumur hidupku.
"Tak perlu berterima kasih, Hanyeon. Ini semua kulakukan untukmu."
Kusadari tubuhku semakin melemah. Penyakit itu mulai menggerogoti syaraf-syarafku, membuatku merasa semakin lemah dan tak dapat menggerakkan tubuhku secara bebas. Kurangkul Hanyeon yang tersenyum memandangi bintang-bintang, serta gemetaran. Kukecup keningnya lembut, seiring dengan airmataku yang jatuh perlahan dan tubuhku yang semakin melemah. Kugenggam tangannya erat-erat, melawan rasa takut yang sedikit melingkupi diriku. Sakit kepala hebat itu pun mulai menderaku lagi.
"Aku mencintaimu, Kim Hanyeon. Aku sangat-sangat mencintaimu, sampai akhir hidupku."
Hanyeon hanya tersenyum, lebih lemah dan tak berdaya dari sebelumnya. Mungkin tenaganya sudah hampir mencapai batas kemampuannya, dan kini kami hanya dapat pasrah kepada nasib.
Aku tahu waktu kita tak begitu banyak, Hanyeon. Aku hanya ingin menghabiskan detik-detik terakhirku bersamamu.
Biarkan semua kenangan yang kita miliki datang, berjalan, dan pergi, bersama aliran sungai yang dingin ini. Dan menjadi saksi bagaimana kita bersatu dalam keabadian.
---
Minggu, 14 Februari 2010, Harian setempat.
Entah apa arti dari semuanya, namun ini terlihat begitu romantis, juga tragis di pagi Valentine yang indah ini, seolah menjadi pertanda bagi datangnya hari kasih sayang sedunia yang jatuh pada hari ini.
Pagi ini, Polisi Namsan menemukan sepasang kekasih yang telah terbujur kaku di pinggir sungai Namsan pada pukul 6.00. Dugaan sementara, kedua remaja ini terhanyut oleh aliran sungai Namsan, namun sama sekali tidak ditemukan bukti berupa baju yang basah atau tubuh yang membiru.
Berdasarkan keterangan seorang saksi yang menemukannya, ia berniat untuk membersihkan rerumputan di sekitar sungai ketika menemukan sepasang kekasih yang diketahui bernama Lee Seunghyun dan Kim Hanyeon ini, berdasarkan kartu identitas yang ada di dompet mereka.
Belakangan diketahui bahwa dua sejoli ini meninggal akibat hawa dingin yang menusuk malam sebelumnya, serta catatan kesehatan mereka yang menyatakan bahwa mereka mengidap penyakit yang serius. Ironisnya, mereka ditemukan tengah berpelukan dan berpegangan tangan saat hendak dievakuasi. Saat ini, pihak rumah sakit yang menangani otopsi mereka telah mempertemukan mereka dengan anggota keluarga masing-masing.
Entah bagaimana anda semua menerima kejadian ini. Sebagai bencana, ataupun anugerah. Anugerah bahwa kita masih memiliki orang-orang yang dapat kita cintai semasa hidup kita. Anugerah yang memberikan banyak waktu bagi kita untuk menebarkan cinta kepada orang di sekitar kita. Seperti pasangan muda ini, yang masih saling mencintai, sampai akhir hayat mereka.
---
HAAALOOO LAGIIII!


Labels: bigbang, curhat, taeyang
